Ratusan Santri Ikuti Wisuda Khotmil Quran 30 Juz Bin Nazor Metode Tilawati Ke-10 TEC Regional 2 Kaltim

Ratusan santri yang mengikuti Wisuda Khotmil Quran 30 Juz Bin Nazor Metode Tilawati Ke-10 yang dilaksanakan oleh TEC 2 Regional Kaltim di Masjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong. (Berita Muara)

BERITAMUARA.COM –  Sebanyak 104 santri mengikuti Wisuda Khotmil Quran 30 Juz Bin Nazor Metode Tilawati Ke-10 yang dilaksanakan oleh Tilawati Education Center (TEC) Regional 2 Kaltim.

Wisuda yang dihadiri langsung oleh salah satu Pendiri Metode Tilawati, Drs. Haji Ali Muafa sekaligus Pimpinan Ponpes Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya itu berlangsung di Masjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong pada Minggu (4/1/2025).

Ratusan santri dari 20 Taman Pendidikan Quran (TPQ) itu dari empat kecamatan se-Kukar, yakni Sebulu, Loa Kulu, Tenggarong dan Tenggarong Seberang.

Mereka telah mengikuti ujian tanggal 7 Desember. Para santri di tes bacaan beserta hukum tajwidnya, dengan nomor halaman yang diacak oleh penguji.

Tidak hanya itu, ratusan santri tersebut juga diuji dengan menulis ayat yang dibaca, hingga pengetahuan ghorib musykilat.

Direktur TEC 2 Regional Kaltim, Habib Zainuri menegaskan bahwa Wisuda Khotmil Quran 30 Juz Bin Nazor Metode Tilawati ke-10 bukanlah akhir dari proses belajar Alquran, melainkan menjadi langkah awal bagi para santri untuk terus menjaga kedekatan dengan kitab suci sepanjang hayat.

Ia menyebut, keberhasilan anak-anak dalam menyelesaikan bacaan Alquran dengan baik dan benar tidak mungkin terwujud tanpa dukungan, kesabaran, serta keteladanan orang tua di rumah.

Menurutnya, sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan Alquran menjadi kunci utama keberhasilan pembinaan santri.

“Begitu banyak perjuangan yang sudah dilakukan oleh anak-anak kita. Tapi saya yakin, anak-anak yang berdiri di depan ini tidak berdiri sendiri. Ada perjuangan besar dari orang tua di belakang mereka,” ucap dia.

“Kalau tidak ada perjuangan orang tua, tidak mungkin anak-anak Bapak Ibu berdiri di sini dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih dan benar,” tambahnya.

Direktur TEC 2 Regional Kaltim Habib Zainuri bersama salah satu santriwati yang diwisuda. (Berita Muara)

Atas keberhasilan ratusan santri mengikuti wisuda ini, ia mengapresiasi seluruh asatidz dan asatidzah yang telah membimbing mereka hingga khatam 30 juz.

“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ustaz dan ustazah yang telah membimbing anak-anak hingga tuntas, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” sebut Habib Zainuri.

Dia mengatakan, tantangan besar yang dihadapi generasi anak-anak saat ini, khususnya di tengah perkembangan teknologi yang telah memasuki era industri 5.0, yakni hampir seluruh aktivitas tak lepas dari gawai.

“Anak-anak hari ini bisa mengaji sampai khatam itu tidak gampang. Tantangannya luar biasa. Banyak anak seusia mereka yang sudah kecanduan gadget,” katanya.

Meskipun demikian, Habib Zainuri bersyukur karena para santri yang diwisuda mampu membuktikan bahwa di tengah derasnya arus teknologi, Alquran tetap dapat menjadi pedoman utama.

Ia menegaskan bahwa kelulusan para santri bukan sekadar formalitas, melainkan melalui proses evaluasi yang ketat.

Dalam metode Tilawati, santri dinyatakan lulus apabila memenuhi dua aspek utama, yakni tuntas secara kuantitas dan kualitas, yang meliputi kefasihan bacaan, ketepatan tajwid, serta pemahaman dasar dalam membaca Alquran.

“Ngaji itu penting, bukan yang penting ngaji. Ini harus kita luruskan. Kalau hanya yang penting ngaji, datang TPQ lalu pulang tiba-tiba khataman, tapi tidak pernah dievaluasi, kita tidak tahu kualitasnya,” tegas dia.

Ia menjelaskan bahwa dalam sistem Tilawati, proses pembelajaran selalu disertai munaqosyah dan pendampingan intensif, sehingga hasil bacaan santri benar-benar terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Habib Zainuri berpesan kepada seluruh wisudawan dan wisudawati agar tidak menjadikan momen khataman sebagai penutup interaksi dengan Alquran.

“Hari ini bukan hari terakhir kalian membaca Alquran. Ini bukan hari menutup Alquran, tapi hari untuk membuka lembaran baru,” pesannya.

Dia mengingatkan bahwa Alquran mesti harus terus dibaca, dipelajari, dan diamalkan. Pasalnya, kelak Alquran akan menjadi penolong bagi orang-orang yang senantiasa membacanya.

“Alquran harus dibaca terus-menerus sampai kita benar-benar paham isinya, sampai ajal menjemput kita semua. Mudah-mudahan Al-Qur’an terus menjadi pedoman hidup kita,” pungkas dia. (rs)