BEM Fisipol Unikarta, Wamapala dan PMI Kukar Lakukan Aksi Peduli Lingkungan dan Sosial Bagi Masker

BERITAMUARA.COM – Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ditunjukkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) bersama Wamapala Unikarta dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kukar.

Pada Rabu (23/9/2026), ketiga organisasi tersebut berkolaborasi dalam aksi kepedulian lingkungan dan sosial dengan membagikan masker kepada masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kabut asap yang terjadi akibat Karhutla di sejumlah wilayah Kukar dan sekitarnya. Pembagian masker menyasar masyarakat dan pengguna jalan yang tetap menjalankan aktivitas di tengah kondisi udara yang terdampak asap.

Kabid Propaganda dan Aksi BEM FISIPOL Unikarta, Aditya Dimas Ardhana, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran sosial untuk tidak hanya menjalankan aktivitas di lingkungan kampus, tetapi juga ikut merespons persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini kami lakukan karena melihat kondisi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah di tengah kabut asap. Sebagai mahasiswa, kami merasa perlu untuk turun langsung dan melakukan sesuatu yang bisa membantu masyarakat, meskipun dalam hal sederhana,” kata Aditya.

Bagikan Masker di Simpang Lampu Merah Unikarta

Pembagian masker dilakukan di simpang lampu merah Unikarta. Lokasi tersebut dipilih karena menjadi salah satu titik yang ramai dilalui masyarakat dan pengguna kendaraan yang sedang menjalankan aktivitas.

Masker dibagikan kepada warga dan pengguna jalan sebagai langkah sederhana untuk membantu mengurangi paparan langsung asap ketika mereka harus berada di luar rumah.

Aditya mengatakan, aksi tersebut berangkat dari perhatian mahasiswa terhadap dampak Karhutla yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh aktivitas sehari-hari masyarakat.

Menurutnya, masih banyak warga yang harus keluar rumah untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya meskipun kondisi kabut asap sedang terjadi.

Karena itu, pembagian masker dinilai menjadi salah satu bentuk bantuan yang dapat dilakukan mahasiswa secara langsung kepada masyarakat.

Mahasiswa Soroti Penanganan Karhutla

Selain membagikan masker, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penyampaian kepedulian mahasiswa terhadap persoalan Karhutla yang terjadi di Kukar dan sekitarnya.

Aditya menilai kabut asap tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi yang biasa terjadi setiap kali memasuki musim tertentu. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang harus beraktivitas di ruang terbuka.

“Bagi kami, persoalan kabut asap tidak bisa dianggap sebagai hal biasa. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang setiap harinya harus beraktivitas di luar rumah. Karena itu, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah dan pihak-pihak yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan Karhutla juga perlu melihat aspek pencegahan. Penanganan tidak semestinya hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi, tetapi harus dibarengi dengan pengawasan dan langkah antisipasi agar potensi kebakaran dapat ditekan.

“Kami berharap penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan dan pengawasan juga harus diperkuat agar kejadian seperti ini tidak terus berulang dan masyarakat tidak terus menjadi pihak yang merasakan dampaknya,” katanya.

Bentuk Kehadiran Mahasiswa di Tengah Masyarakat

Kolaborasi BEM FISIPOL Unikarta, Wamapala Unikarta dan PMI Kukar dalam aksi pembagian masker tersebut sekaligus menunjukkan keterlibatan organisasi mahasiswa dalam persoalan sosial dan lingkungan di daerah.

Bagi BEM FISIPOL Unikarta, aksi tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan akademik di lingkungan kampus, tetapi juga melalui aksi nyata ketika masyarakat menghadapi persoalan.

Aditya berharap kegiatan sederhana tersebut dapat membantu masyarakat yang terdampak kabut asap sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Melalui kegiatan ini, BEM FISIPOL UNIKARTA ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berada di lingkungan kampus, tetapi juga peduli dan hadir di tengah masyarakat.”