Produksi Padi Kutim Masih Defisit 14 Ribu Ton, DTPHP Targetkan Lonjakan Hasil Panen

BERITAMUARA.COM — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus bekerja keras mengejar ketahanan pangan daerah di tengah masih lebarnya selisih antara kebutuhan dan produksi beras lokal.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kutim menunjukkan kebutuhan konsumsi beras masyarakat mencapai 34.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 20.000 ton.

Kabid Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengatakan bahwa kondisi defisit sebesar 14.000 ton ini menjadi tantangan besar sekaligus dasar penyusunan program peningkatan produksi yang lebih agresif.

Menurutnya, peningkatan kapasitas lahan dan produktivitas menjadi dua strategi yang berjalan beriringan.

“Dengan kebutuhan yang mencapai 34 ribu ton, produksi kita masih tertinggal sekitar 14 ribu ton. Ini menjadi pekerjaan besar yang harus dikejar melalui peningkatan produktivitas dan perluasan lahan tanam,” ujar Dessy.

Saat ini, Kutim menetapkan target produksi minimal 4,8 ton per hektare sebagai batas standar untuk daerah.

Namun, pada lahan-lahan baru hasil cetak sawah, pemerintah menargetkan capaian produksi lebih tinggi, yakni di atas 6 ton per hektare, karena lahan tersebut berada dalam kondisi optimal dan akan mendapatkan pendampingan intensif dari petugas lapangan.

Dessy menjelaskan bahwa produktivitas tinggi pada lahan baru sangat memungkinkan dicapai, mengingat pola pengelolaan lahan baru mengikuti standar budidaya modern.

Selain itu, dukungan sarana produksi dan sistem irigasi juga disiapkan lebih matang dibandingkan lahan lama yang membutuhkan perbaikan.

Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada luas dan produktivitas, tetapi juga pada keseriusan petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang sesuai.

“Kami berharap tambahan produksi dari lahan baru dan peningkatan produktivitas lahan eksisting dapat memperkecil defisit yang selama ini membayangi kebutuhan pangan Kutim,” katanya.

DTPHP Kutim optimistis bahwa strategi perluasan lahan, penguatan program cetak sawah baru, serta penerapan teknologi pertanian modern akan menghasilkan peningkatan produksi signifikan dalam beberapa tahun mendatang. (ADV)