Kelangkaan Pertamax di Kutim Masuki Pekan Ketiga, Disperindag Pastikan Penanganan Terus Diperkuat

BERITAMUARA.COM – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis non-subsidi, khususnya Pertamax, masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kondisi ini telah berlangsung sekitar tiga minggu terakhir dan mulai menimbulkan dampak pada aktivitas masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memastikan langkah penanganan terus dilakukan agar kondisi dapat segera kembali normal.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, menjelaskan bahwa penyebab utama kelangkaan berasal dari gangguan distribusi yang terjadi di wilayah Balikpapan, salah satu hambatan terbesar adalah kandasnya sejumlah tongkang batubara di Muara Balikpapan, sehingga tanker pengangkut BBM tidak dapat masuk ke terminal penyaluran.

“Ini bukan sekadar keterlambatan biasa, ada tongkang batubara yang kandas dan menghalangi jalur tanker Pertamina, sehingga suplai ke berbagai daerah, termasuk Kutim, ikut terdampak,” jelasnya.

Selain hambatan navigasi, Disperindag juga menerima informasi bahwa beberapa tangki Pertamax di Kilang Balikpapan sedang menjalani proses pengurasan untuk mencegah potensi kontaminasi atau kasus “aplosan”.

Proses ini membuat pasokan Pertamax ke daerah-daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Kutim, menjadi tidak stabil.

Meski begitu, Pemkab Kutim menegaskan agar penanganan tetap dimaksimalkan.

Bupati Kutim disebut secara langsung meminta Disperindag untuk melakukan langkah-langkah percepatan dan memastikan bahwa kondisi lapangan tetap terkendali.

“Bupati meminta agar hal ini segera diatasi dan terus kami pantau. Kami memang tidak bisa menyelesaikan persoalan kapal atau teknis kilang, tetapi di lapangan kami wajib memastikan situasi tetap tertib,” tegas Nora.

Disperindag Kutim bersama Polres Kutim dan Dinas Perhubungan kini fokus mencegah munculnya antrean panjang di depan SPBU, terutama yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

Antrean kendaraan yang memakan badan jalan dinilai berpotensi menyebabkan kecelakaan dan menghambat mobilitas masyarakat.

Di tengah upaya stabilisasi suplai, Pertamina disebut telah memberikan estimasi bahwa distribusi Pertamax dapat kembali normal dalam 2 hingga 3 hari ke depan.

Disperindag Kutim juga terus melakukan komunikasi dengan pihak Pertamina untuk memperoleh pembaruan kondisi secara berkala.

SPBU di wilayah Kabo serta Jalan Soekarno Hatta disebut mulai menerima suplai bertahap meski belum sepenuhnya stabil.

Nora menegaskan bahwa pemerintah daerah juga terus mengawasi potensi penyebab lain yang bisa memperparah kelangkaan, seperti praktik pengetapan atau pembelian berulang oleh oknum tertentu.

Sementara itu, perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite akibat kelangkaan juga ikut menambah beban antrean di SPBU.

Pemerintah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau menimbun BBM.

Disperindag memastikan bahwa seluruh upaya stabilisasi terus dilakukan sembari menunggu perbaikan distribusi di tingkat pusat.

Dengan koordinasi lintas sektor dan estimasi pemulihan suplai dari Pertamina, Pemkab Kutim berharap kondisi distribusi BBM dapat segera kembali normal dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan tanpa gangguan berarti.(ADV)