BERITAMUARA.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik, sejumlah program pokok dijalankan secara berkelanjutan untuk memastikan respons cepat serta kesiapan logistik bagi masyarakat terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, S.E., M.Si., mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa kegiatan inti yang menjadi kewajiban satuan kerja. Di antaranya adalah pencarian dan pertolongan bagi warga yang mengalami musibah seperti tenggelam, penyiapan logistik tanggap darurat, serta patroli di daerah-daerah rawan bencana.
“Kegiatan ini merupakan program wajib kami. Untuk pencarian di laut atau sungai, kami selalu berkoordinasi dengan Basarnas sebagai sektor utama, sementara BPBD mendukung di lapangan,” jelasnya.
Selain tiga kegiatan utama tersebut, BPBD Kutim juga menyiapkan program penguatan sistem pelaporan atau push-down log. Melalui sistem ini, setiap laporan bencana dari petugas, relawan, media, maupun masyarakat akan diterima dan diolah sebelum disampaikan kepada pimpinan.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi dan memperbaiki mekanisme tanggapan bencana.
Program kedaruratan ini tidak hanya dijalankan tahun ini, tetapi juga akan berlanjut pada 2026 dengan sejumlah penambahan. Salah satu yang menjadi fokus pengembangan adalah pembentukan kluster penanganan bencana, sebagaimana diamanatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kluster tersebut dibentuk untuk mengelompokkan sumber daya dan tanggung jawab tiap sektor dalam penanggulangan bencana.
“Kluster ini ada enam jenis, seperti logistik, pendidikan, dan pencarian pertolongan. Tujuannya agar kita tahu sumber daya mana yang ada di setiap OPD maupun perusahaan. Jadi saat bencana terjadi, kita tidak bingung lagi karena data dan peran sudah jelas,” terang Naim.
Selain penguatan sistem kluster, BPBD Kutim juga menyiapkan pelatihan bagi petugas dan relawan dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) Multisektor. Tim ini akan terdiri dari lintas instansi, mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pekerjaan Umum. Mereka akan bekerja bersama melakukan kaji cepat terhadap dampak bencana di masing-masing sektor seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan sarana publik.
Program TRC multisektor ini dinilai penting karena dapat mempercepat penanganan bencana berskala besar. Dengan kolaborasi lintas sektor, BPBD Kutim berharap respons yang diberikan bisa lebih terkoordinasi dan menyentuh seluruh aspek yang terdampak.
Meski menghadapi tantangan dari segi anggaran akibat kebijakan rasionalisasi, BPBD Kutim memastikan seluruh program wajib tetap berjalan.
Pihaknya akan mengoptimalkan sumber daya yang ada agar pelayanan kebencanaan kepada masyarakat tetap maksimal dan berkelanjutan.
“Semua kegiatan yang kami jalankan merupakan urusan wajib dan bagian dari tanggung jawab BPBD. Insya Allah tahun depan kami ambil satu kluster untuk dimantapkan sebelum dikembangkan ke sektor lainnya,”pungkasnya. (ADV)
