BERITAMUARA.COM – Kebijakan rasionalisasi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat mulai memunculkan dampak nyata di daerah.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kukar, Aji Muhammad Ari Junaidi, mengungkapkan bahwa beberapa agenda strategis tahun ini terpaksa batal dilaksanakan.
Dua sektor yang paling terdampak adalah kegiatan olahraga tradisional yang selama ini menjadi upaya pelestarian budaya fisik daerah, serta program Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) yang menjadi tulang punggung pembinaan atlet usia dini.
“Biasanya anak-anak kami bisa mengikuti try out ke luar daerah, tapi tahun ini tidak bisa karena rasionalisasi itu,” ujar Ari Junaidi, Minggu (16/11/2025).
Try out menjadi salah satu komponen penting pembinaan atlet karena memberi pengalaman tanding di berbagai level.
Tanpa itu, proses peningkatan kemampuan atlet muda berjalan tidak optimal. Meski begitu, Dispora Kukar tetap memaksimalkan latihan rutin di dalam daerah.
Beberapa cabang olahraga bahkan diputuskan tetap mengikuti kejuaraan nasional meski tanpa persiapan try out.
“Hasilnya memang tidak maksimal seperti sebelumnya, tapi kami tetap berusaha tampil baik,” kata Aji Ari.
Dia mengatakan bahwa kondisi ini menuntut para pelatih dan atlet untuk beradaptasi.
Mereka dituntut lebih kreatif memanfaatkan fasilitas terbatas agar performa tetap terjaga.
Kendati dilanda keterbatasan, Dispora Kukar menegaskan tidak akan menurunkan intensitas pembinaan.
Ari menyebut, semangat para atlet dan pelatih harus tetap dijaga agar tidak goyah menghadapi perubahan kebijakan anggaran.
“Intinya, semangatnya tidak boleh turun. Rasionalisasi ini kami anggap tantangan, bukan hambatan,” tegasnya.
Selain itu, Dispora Kukar mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola kerjasama dengan komunitas olahraga.
Pendekatan berbasis kolaborasi dianggap sebagai strategi paling realistis untuk menjaga keberlanjutan program.
“Kami akan maksimalkan kegiatan yang berbasis kolaborasi, supaya anggaran bisa ditekan tapi tetap produktif,” ujarnya.
Olahraga tradisional, yang selama ini menjadi agenda rutin sebagai bagian dari pelestarian budaya dan penguatan karakter generasi muda, ikut terkena imbas.
Tanpa dukungan anggaran perjalanan dan koordinasi, beberapa agenda festival serta kompetisi terpaksa ditangguhkan.
Padahal, olahraga tradisional sering menjadi ruang konsolidasi budaya lokal sekaligus wadah pembinaan talenta di pedesaan.
Keterhentian agenda ini diperkirakan memberi dampak jangka panjang jika tidak segera diakomodasi kembali.
Dispora Kukar kini mengarahkan fokus pada efisiensi kegiatan, penguatan jejaring komunitas, serta optimalisasi fasilitas yang sudah ada.
Ia berharap sinergi lintas organisasi dapat menutup celah yang ditinggalkan pemangkasan anggaran.
Meski tantangan semakin kompleks, optimisme tetap dikedepankan.
Pemerintah daerah berkomitmen mencari solusi agar pembinaan atlet dan pelestarian olahraga tradisional tidak berhenti di tengah jalan.
Upaya adaptif ini menjadi penting, mengingat olahraga baik modern maupun tradisional, merupakan bagian dari pembentukan karakter, kesehatan masyarakat, hingga kebanggaan daerah. (adv/zy)