{"version":"1.0","provider_name":"BERITA MUARA","provider_url":"https:\/\/beritamuara.com","title":"Petarung Muaythai Kakak Beradik Sumbang Medali Emas untuk Kaltim","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"7w13wrxbCn\"><a href=\"https:\/\/beritamuara.com\/petarung-muaythai-kakak-beradik-sumbang-medali-emas-untuk-kaltim\/\">Petarung Muaythai Kakak Beradik Sumbang Medali Emas untuk Kaltim<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/beritamuara.com\/petarung-muaythai-kakak-beradik-sumbang-medali-emas-untuk-kaltim\/embed\/#?secret=7w13wrxbCn\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;Petarung Muaythai Kakak Beradik Sumbang Medali Emas untuk Kaltim&#8221; &#8212; BERITA MUARA\" data-secret=\"7w13wrxbCn\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script>\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/beritamuara.com\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n<\/script>\n","thumbnail_url":"https:\/\/beritamuara.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/IMG-20260814-WA0059.jpg","thumbnail_width":1078,"thumbnail_height":720,"description":"BERITAMUARA.COM \u2013 Prestasi membanggakan ditorehkan kakak beradik asal Kutai Kartanegara (Kukar), M. Angkasa Abdurahman dan Chalista Alfarida Abdurahman, pada ajang Indonesia Muaythai Championship 2026. Keduanya berhasil mempersembahkan medali emas untuk Kalimantan Timur (Kaltim). Keberhasilan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi kedua petarung muda yang sejak usia dini telah akrab dengan dunia bela diri. Angkasa dan Chalista menunjukkan konsistensi prestasi setelah sebelumnya juga meraih medali pada ajang Inorga ASTA Indonesia dalam Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) NTB 2025. Pada ajang tersebut, Angkasa berhasil meraih medali emas, sedangkan Chalista membawa pulang medali perak. Kini, setahun berselang, keduanya kembali tampil bersama dan sama-sama berdiri di podium tertinggi. Dua medali emas yang diraih pada Indonesia Muaythai Championship 2026 sekaligus memperkuat kiprah mereka sebagai atlet muda potensial dari Kaltim. Di balik prestasi tersebut terdapat peran besar sang ayah sekaligus pelatih, Rony Abdurahman, yang juga pernah menekuni dunia bela diri sebagai petarung. Rony mengatakan kecintaan kedua anaknya terhadap bela diri tumbuh secara alami sejak kecil. Mereka bahkan tidak perlu dipaksa untuk berlatih karena lingkungan tempat tinggal yang memang berada di kawasan Arkan Camp membuat aktivitas latihan menjadi bagian dari keseharian. \u201cMereka berdua ini mengalir darah petarung. Jadi latihan tanpa harus dipaksa. Kalau dilarang latihan pasti enggak mau,\u201d ujar Rony. Angkasa dan Chalista telah mengenal latihan bela diri sejak berusia sekitar lima tahun. Sejak saat itu, latihan secara perlahan menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan keduanya. \u201cKami tinggal di lingkungan Arkan Camp, keluar kamar sudah tempat latihan. Mereka latihan sudah dari usia lima tahun. Jadi sudah menjadi kebiasaan,\u201d katanya. Meski telah menunjukkan prestasi di Muaythai, Rony tidak ingin terburu-buru mengarahkan kedua anaknya hanya pada satu cabang olahraga bela diri. Menurutnya, saat ini yang lebih penting adalah memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya kepada mereka melalui berbagai disiplin bela diri. Dari pengalaman tersebut, nantinya akan terlihat cabang yang paling sesuai dengan karakter dan kemampuan masing-masing. \u201cSaat ini mereka saya persiapkan agar terus mencari pengalaman di berbagai bela diri. Nanti kalau sudah ketemu bela diri yang pas, mereka akan fokus di bela diri itu,\u201d jelasnya. Pola tersebut juga dilakukan agar kedua atlet tidak hanya mengejar kemenangan sejak usia dini, tetapi memiliki pengalaman bertanding dan pemahaman teknik yang semakin matang. Rony menilai proses pembinaan atlet muda membutuhkan kesabaran. Prestasi di usia dini harus menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi. Dukungan Sekolah Jadi Faktor Penting Di luar latihan dan pertandingan, dukungan orang tua dan sekolah juga menjadi faktor penting dalam perjalanan Angkasa dan Chalista. Angkasa yang kini berusia 13 tahun merupakan siswa SMPN 3 Tenggarong, sedangkan Chalista yang berusia 10 tahun bersekolah di SDN 022 Tenggarong. Keduanya mendapat dukungan dari sekolah selama menjalani persiapan pertandingan. Bahkan, sekolah memberikan dispensasi kepada mereka selama masa persiapan yang berlangsung sekitar satu bulan. Menurut Rony, dukungan tersebut sangat berarti karena atlet muda harus tetap menjaga keseimbangan antara pendidikan dan olahraga. \u201cIntinya dukungan orang tua dan sekolah sangat penting untuk prestasi atlet,\u201d tuturnya. Bagi Rony, prestasi yang diraih kedua anaknya bukan semata-mata hasil dari latihan keras. Ada dukungan keluarga, sekolah, lingkungan latihan, serta keberanian untuk terus mengikuti berbagai kompetisi. Setelah sukses meraih emas di Indonesia Muaythai Championship 2026, perjalanan Angkasa belum berhenti. Petarung berusia 13 tahun tersebut dipersiapkan untuk kembali tampil pada Porprov Kaltim di Paser yang dijadwalkan berlangsung November mendatang. Namun, kali ini Angkasa akan tampil pada kategori culture (seni) Wai Khruu, salah satu bentuk seni tradisional dalam Muaythai yang menampilkan gerakan penghormatan dan unsur budaya sebelum pertandingan. Keikutsertaan tersebut diharapkan semakin memperkaya pengalaman Angkasa dalam dunia Muaythai, sekaligus membuka peluang baginya untuk terus berkembang sebagai atlet muda Kaltim. Bagi keluarga Abdurahman, prestasi dua bersaudara ini bukan sekadar tentang jumlah medali. Lebih dari itu, perjalanan mereka menjadi proses membangun disiplin, keberanian, konsistensi, serta pengalaman bertanding sejak usia dini. Dengan dukungan keluarga dan sekolah yang terus berjalan, Angkasa dan Chalista diharapkan mampu menjaga prestasi sekaligus berkembang menjadi atlet bela diri yang lebih matang di masa mendatang."}